9 CARA MEMBANGKITKAN KESADARAN DALAM KAWRUH SEJATI
Dasar pemikiran ... BUKA
Kesadaran menjadi nyata bukan karena manusia mampu menjelaskan banyak hal, tetapi karena pengetahuan tersebut mampu mengubah cara hidupnya.
- Kawruh Sejati -
Kesadaran manusia merupakan bagian penting dalam perjalanan kehidupan. Manusia tidak hanya hidup karena memiliki raga, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengamati, memahami, merasakan, memilih, dan menentukan arah kehidupannya.
Namun, kesadaran tidak selalu berada dalam keadaan jernih. Cipta dapat dipengaruhi angan-angan, rasa dapat dipenuhi berbagai kotoran batin, sedangkan karsa dapat diarahkan oleh pamrih dan keinginan yang tidak terkendali.
Dalam Kawruh Sejati, kesadaran tidak dipahami hanya sebagai kemampuan mengetahui bahwa manusia sedang hidup.
Kesadaran berkaitan dengan kemampuan manusia untuk mengenali keadaan dirinya, memahami kehidupan, membedakan yang benar dari yang keliru, serta mewujudkan kawruh dalam laku kehidupan.
Kawruh Sejati menjadi pepadhang bagi manusia untuk memahami kehidupan secara lebih jernih. Namun, pepadhang tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan. Kawruh yang benar harus diwujudkan melalui weninging cipta, tulusing rasa, dan utamaning karsa.
Karena itu, membangkitkan kesadaran manusia merupakan proses yang berlangsung dari dalam diri dan kemudian tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut sembilan cara yang dapat dipahami sebagai jalan membangkitkan kesadaran manusia dalam kerangka Kawruh Sejati.
1. Eling Marang Sang Sumber Panguripan.
Kesadaran diawali dengan eling kepada Sang Sumber Panguripan. Manusia perlu menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari panguripan dan kehidupannya tidak berdiri sendiri.
Eling bukan sekadar mengingat sebuah nama atau mengucapkan suatu sebutan. Eling merupakan kesadaran yang mempengaruhi cara manusia memandang kehidupan dan menempatkan dirinya secara benar.
Dari eling tumbuh sikap andhap asor. Manusia tidak lagi menempatkan dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu. Ia menyadari adanya sumber kehidupan yang lebih mendasar daripada kepentingan dirinya sendiri.
Kesadaran semacam ini menjadi dasar bagi perjalanan menuju Kawruh Sejati.
2. Ngaweruhi Jatining Panguripan.
Setelah eling, manusia perlu ngaweruhi jatining panguripan. Artinya, manusia berusaha memahami hakikat kehidupan yang sedang dijalaninya.
Manusia memiliki raga sebagai wahana kehidupan. Namun manusia tidak dapat dipahami hanya dari apa yang tampak secara jasmani. Di dalam kehidupan terdapat cipta, rasa, dan karsa yang mempengaruhi cara manusia memahami dan menjalani kehidupan.
Ngaweruhi bukan sekadar mengumpulkan informasi. Ngaweruhi berarti memahami dengan sungguh-sungguh sehingga pengetahuan tersebut mempunyai hubungan dengan kehidupan nyata.
Semakin manusia memahami panguripan, semakin terbuka kesadarannya untuk melihat kehidupan secara lebih utuh.
3. Mawas Diri.
Kesadaran tidak dapat berkembang apabila manusia hanya sibuk menilai keadaan di luar dirinya. Karena itu, mawas diri menjadi bagian penting dalam membangkitkan kesadaran.
Mawas diri berarti berani melihat keadaan diri sendiri secara jujur. Manusia mengamati apa yang muncul dalam cipta, rasa, dan karsanya.
Apakah pikirannya jernih? Apakah rasanya tulus? Apakah kehendaknya benar-benar baik atau masih dipengaruhi pamrih?
Mawas diri bukan tindakan menyalahkan diri sendiri. Mawas diri merupakan cara untuk mengenali keadaan diri sehingga manusia dapat memperbaiki apa yang perlu diperbaiki.
Dengan mawas diri, manusia mulai mengenali dirinya sebagaimana adanya.
4. Weninging Cipta.
Cipta merupakan salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Namun cipta dapat menjadi keruh karena prasangka, angan-angan, kekhawatiran, kepentingan pribadi, maupun penilaian yang terburu-buru.
Weninging cipta bukan berarti manusia berhenti berpikir. Sebaliknya, manusia justru belajar menggunakan cipta dengan lebih jernih. Ia berusaha melihat sesuatu berdasarkan kenyataan, bukan semata-mata berdasarkan keinginan atau prasangka.
Cipta yang wening membantu manusia membedakan antara kenyataan dan bayangan pikirannya sendiri.
Dalam hubungan dengan Kawruh Sejati, weninging cipta menjadi dasar agar manusia tidak mudah menganggap apa yang dipikirkannya sebagai kebenaran mutlak.
5. Tulusing Rasa.
Selain cipta, manusia memiliki rasa. Rasa dapat menjadi jalan untuk memahami kehidupan, tetapi rasa juga dapat dikotori oleh iri, dengki, sengit, pamrih, takut berlebihan, dan berbagai kotoran batin. Karena itu diperlukan Tulusing Rasa.
Tulusing rasa berarti mengembangkan rasa yang tulus, tidak selalu dikuasai kepentingan diri sendiri. Manusia belajar merasakan keadaan dengan lebih jernih dan tidak menjadikan perasaan pribadi sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.
Tulusing rasa juga berkaitan dengan kemampuan menghargai kehidupan dan sesama. Ketika rasa menjadi tulus, hubungan manusia dengan lingkungan dan sesamanya dapat menjadi lebih baik.
Kawruh Sejati tidak hanya menuntut manusia mengetahui sesuatu, tetapi juga membentuk kualitas rasa dalam menjalani kehidupan.
6. Utamaning Karsa.
Cipta yang wening dan rasa yang tulus perlu diwujudkan melalui karsa. Karena itu, kesadaran manusia tidak akan lengkap apabila hanya berhenti pada pikiran dan perasaan.
Tidak setiap keinginan harus diwujudkan. Manusia perlu menguji kehendaknya sebelum menjadikannya tindakan. Apakah kehendak tersebut lahir dari cipta yang jernih dan rasa yang tulus, atau justru berasal dari pamrih dan dorongan yang tidak terkendali?
Utamaning karsa menjadikan manusia mampu memilih tindakan dengan kesadaran.
Di sinilah hubungan antara Kawruh Sejati dan laku menjadi jelas: kawruh memberikan pepadhang, sedangkan karsa menentukan bagaimana pepadhang tersebut diwujudkan dalam kehidupan.
7. Memahami dan Membersihkan Kotoran Batin.
Kesadaran tidak dapat berkembang dengan baik apabila manusia tidak mengenali berbagai kotoran batin yang mempengaruhi dirinya.
Kotoran batin dapat berupa iri, dengki, sombong, pamrih, serakah, sengit, rasa takut yang berlebihan, maupun berbagai dorongan yang membuat manusia kehilangan kejernihan.
Langkah pertama bukan melawannya secara membabi buta, tetapi mengenalinya.
Ketika manusia mampu melihat bahwa suatu pikiran atau perasaan sedang dipengaruhi kotoran batin, ia memperoleh jarak untuk tidak langsung mengikutinya.
Dari sinilah proses membersihkan diri dapat dimulai.
Kesadaran yang berkembang membuat manusia tidak selalu menjadi korban dari dorongan dalam dirinya sendiri.
8. Mewujudkan Kawruh dalam kehidupan.
Kawruh yang hanya tersimpan dalam pikiran belum menjadi perubahan kehidupan. Karena itu, salah satu cara utama membangkitkan kesadaran adalah nglakoni kawruh.
Apa yang telah diketahui harus diwujudkan dalam tindakan.
Jika mengetahui pentingnya kejujuran, maka kejujuran harus dijalankan.
Jika memahami pentingnya andhap asor, maka sikap tersebut harus terlihat dalam perilaku.
Jika memahami pentingnya menjaga cipta, rasa, dan karsa, maka ketiganya harus dilatih dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah prinsip bahwa kawruh kudu dadi laku.
Kesadaran menjadi nyata bukan karena manusia mampu menjelaskan banyak hal, tetapi karena pengetahuan tersebut mampu mengubah cara hidupnya.
9. Mantep lan Waspada Ing Panguripan.
Kesadaran yang telah tumbuh perlu dipelihara. Manusia selalu berhadapan dengan perubahan keadaan, sehingga cipta, rasa, dan karsa dapat kembali dipengaruhi oleh berbagai hal.
Karena itu diperlukan sikap mantep lan waspada.
Mantep berarti memiliki keteguhan dalam menjalani laku yang telah dipahami benar.
Waspada berarti selalu memperhatikan keadaan diri agar tidak kembali dikuasai oleh kotoran batin, pamrih, maupun pikiran yang tidak jernih.
Kesadaran bukan pencapaian sekali jadi. Kesadaran merupakan proses yang terus berlangsung selama manusia menjalani panguripan.
Hubungan Kesembilan Cara dengan Kawruh Sejati.
Sembilan cara tersebut dapat dilihat sebagai satu rangkaian yang saling berhubungan:
Eling → Ngaweruhi → Mawas Diri → Weninging Cipta → Tulusing Rasa → Utamaning Karsa → Resik Batin → Nglakoni Kawruh → Mantep lan Waspada.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kesadaran manusia tidak cukup dibangun melalui pengetahuan intelektual saja.
Kesadaran dimulai dari eling, berkembang melalui pengenalan terhadap kehidupan dan diri sendiri, kemudian dijernihkan melalui cipta, rasa, dan karsa, lalu dibuktikan melalui laku.
Dalam kerangka Kawruh Sejati, manusia diarahkan untuk tidak berhenti pada apa yang diketahui. Kawruh harus menjadi pepadhang yang menuntun kehidupan.
Karena itu, ukuran penting dari perkembangan kesadaran bukan sekadar seberapa banyak seseorang mengetahui suatu ajaran, tetapi bagaimana pengetahuan tersebut membentuk cara berpikir, cara merasakan, cara memilih, dan cara bertindak.
Penutup.
Membangkitkan kesadaran manusia pada dasarnya merupakan perjalanan kembali kepada kejernihan diri.
Manusia belajar mengenali kehidupan, memahami dirinya, menjernihkan cipta, menulusi rasa, mengutamakan karsa, membersihkan kotoran batin, dan mewujudkan kawruh dalam kehidupan nyata.
Kawruh Sejati memberikan arah agar manusia tidak hanya mengetahui tentang kehidupan, tetapi benar-benar ngaweruhi lan nglakoni.
Pada akhirnya, kesadaran yang hidup adalah kesadaran yang tampak dalam laku.
Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Utamaning Karsa bukan hanya konsep, melainkan dasar untuk membangun kehidupan manusia yang lebih jernih, tulus, dan utama.
FAQ tentang 9 Cara Membangkitkan Kesadaran dalam Kawruh Sejati
Apa yang dimaksud dengan membangkitkan kesadaran manusia?
Membangkitkan kesadaran manusia adalah proses membuat manusia semakin mampu mengenali dirinya, memahami kehidupan, menjernihkan cipta, menulusi rasa, mengarahkan karsa, dan mewujudkan pemahamannya dalam laku.
Apa hubungan kesadaran dengan Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati menjadi pepadhang bagi manusia untuk memahami kehidupan secara lebih jernih. Kesadaran berkembang ketika pepadhang tersebut tidak hanya diketahui, tetapi diwujudkan dalam kehidupan.
Mengapa Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Utamaning Karsa penting?
Ketiganya merupakan kesatuan dalam kehidupan manusia. Cipta perlu dijernihkan, rasa perlu ditulusi, dan karsa perlu diarahkan kepada sesuatu yang utama. Ketiganya kemudian diwujudkan dalam laku.
Apakah kesadaran cukup diperoleh melalui pengetahuan?
Tidak. Dalam kerangka Kawruh Sejati, pengetahuan perlu diwujudkan dalam laku. Kawruh yang tidak diterapkan dalam kehidupan belum menunjukkan perubahan kesadaran secara nyata.
Apa peran mawas diri dalam membangkitkan kesadaran?
Mawas diri membantu manusia melihat keadaan dirinya sendiri secara jujur. Dengan mawas diri, manusia dapat mengenali pikiran, rasa, kehendak, dan kotoran batin yang memengaruhi perilakunya.
Apakah membangkitkan kesadaran merupakan proses sekali jadi?
Tidak. Kesadaran perlu dijaga dan dikembangkan terus-menerus. Karena keadaan kehidupan selalu berubah, manusia perlu tetap mantep dan waspada terhadap keadaan cipta, rasa, dan karsanya.
Apa tujuan akhir dari membangkitkan kesadaran manusia?
Tujuannya bukan sekadar memperoleh pengalaman tertentu, melainkan membentuk manusia yang mampu memahami kehidupan secara jernih dan mewujudkan kawruh tersebut dalam laku sehari-hari.

Komentar
Posting Komentar